Kepemimpinan Orang Muda Kepulauan Riau, Hari Ini Untuk Esok


 “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya….
Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” (Bung Karno).

“Pemuda adalah harapan bangsa,dengan pemuda dunia mimpi jadi nyata”. Barangkali kalimat heroik tersebut adalah sebuah pertaruhan dan harapan yang begitu mempesona dan elit. Namun, kalimat itu selalu saja terdengar dari setiap materi retorika tokoh/elit jika mereka mencari dukungan secara politis pada saat mengampanyekan kepentingannya, untuk merebut aksi simpatik masyarakat dengan begitu berapi-api guna akhirnya mendapatkan dukungan total dari kaum muda. Sehingga, ini juga kadang teranulir dari dampak dan lahirnya sebuah stigma negatif di masyarakat.

Mengapaisu pemimpin dan kepemimpinan yang menjadi fokus diskusi kita kali ini ?, Sebagai orang yang beridieologikan agama; maka setiap manusia adalah pemimpin, yang akan dimintai pertanggungjawaban kepemimpinannya itu baik di dunia maupun di hari akhir kelak. Sebagaimana yang dikatakan oleh ahli manajemen, Peter F. Drucker, ada empat hal sederhana yang kita ketahui tentang pemimpin, yakni Pertama, satu-satunya defenisi tentang pemimpin ialah seseorang yang mempunyai pengikut. Beberapa orang adalah pemikir dan yang lain seperti nabi. Dimana kedua peran itu penting dan sangat dibutuhkan, tetapi tanpa pengikut tidak akan ada pemimpin. Kedua, seseorang pemimpin yang efektif bukanlah seseorang yang disayangi atau dikagumi. Dia adalah seorang yang pengikutnya berbuat yang benar, dan popularitas bukanlah kepemimpinan. Hasil yang dicapai itulah yang disebut kepemimpinan. Ketiga, pemimpin-pemimpin terlihat jelas. Oleh karena itu, mereka dapat memberikan contoh kepada orang lain. Keempat, kepemimpinan bukanlah pangkat, hak istimewa, gelar, atau uang. Kepemimpinan adalah tanggung jawab.

Bernard Bass dalam buku B.R. Wirjana yang berjudul Kepemimpinan; Dasar-dasar dan Pengembangannya; telah menyatakan bahwa ada tiga cara dasar untuk menjadi pemimpin, yaitu beberapa pembawaan kepribadian yang memungkinkan seseorang secara alami mencapai peran kepemimpinan (Trait Theory), adanya krisis atau kejadian yang penting menyebabkan seseorang muncul untuk menghadapinya sehingga menampilkan kualitas-kualitas kepemimpinan yang luar biasa pada seseorang (The Great Events Theory), dan yang memilih untuk menjadi pemimpin. Namun begitu, seseorang dapat mempelajari keterampilan-keterampilan kepemimpinan (The Transformational Leadership Theory).

Kita pahami bersama bahwa untuk menjadi seorang pemimpin bukanlah pekerjaan mudah, walaupun tanpa kita sadari bahwa kita sendiri memiliki potensi besar untuk menjadi sebagai seorang pemimpin, ya minimal untuk memimpin diri pribadi atau diri sendiri.

Konsep dan Prinsip

Bernardine R. Wijarna dalam bukunya “Kepemimpinan; Dasar-dasar dan Pengembangannya” menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses yang kompleks di mana seorang mempengaruhi orang-orang lain untuk mencapai suatu misi, tugas, atau suatu sasaran, dan mengarahkan organisasi dengan cara membuatnya lebih kohesif dan lebih masuk akal”. Pemahaman dari konsep kepemimpinan bukan saja hal yang harus kaku, melainkan dinamis. Untuk dipahami, ketika proses kepemimpinan tersebut melekat pada pribadi orang, yang harus diperhatikan adalah bagaimana seseorang yang telah diamanahi sebagai seorang pemimpin, secara sadar mampu melihat proses ini dengan mempergunakan atribut kepemimpinan, yakni adanya kepercayaan, nilai-nilai, etika, sifat, pengetahuan, dan keterampilan. Karena, pemimpin membuat orang memiliki kemauan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang tinggi dari tujuan sebuah organisasi.

Interpretasi terhadap kepemimpinan bagi orang muda Kepulauan Riau, seyogianya berdasar dari kemampuan diri agar dapat mengaktualisasikan diri secara universal untuk menunjukan potensi spritual sebagai integritas moral dan loyalitas yang rasional dengan mengedepankan prinsip-prinsip kepemimpinan bagi orang muda Kepulauan Riau. Hal tersebut adalah:

Pertama, pemuda Kepulauan Riau pada dasarnya memiliki potensi yang besar untuk berkembang dan melakukan berbagai perubahan. Dengan demikan, apabila seorang pemuda telah mengemban amanah sebagai pemimpin, berkewajiban untuk mengaktualisasikan potensi orang-orang yang mereka pimpin secara optimal, utama dan terutama bagi kebaikan mereka dan organisasi. Walaupun pada kenyataannya kita selalu dihadapkan dan menemukan bahwa jarang sekali mereka seperti yang diharapkan. Inilah tantangannya, agar dapat melakukan upaya perubahan yang terbaik bagi mereka dan organisasi kepemudaan itu sendiri.

Kedua, ada perbedaan, akan tetapi saling terkait dengan prinsip yang disebut solidaritas dan subsidiaritas. Sebagai pemahaman, solidaritas artinya solider atau senasib sepenanggungan dengan yang dipimpin. Akan tetapi, yang kurang jelas adalah subsidiaritas, yakni suatu prinsip yang disebut sebagai swadaya, dalam arti keputusan nasib dan kehidupan organisasi secara internal harus diambil sikap oleh mereka sendiri dan tidak diputuskan oleh pemimpin atau kelompok lain, karena hal ini adalah merupakan bentuk pengakuan yang paling dasar dan mendalam tentang kemampuan seorang manusia untuk terus berkembang dan melakukan aktualisasi potensi diri yang mereka miliki untuk menjadi manusia yang mampu menentukan masa depan mereka sendiri.

Ketiga, rasa saling mengasihi dan menyayangi bagi sesama seperti yang diajarkan agama. Prinsip ini merupakan modal dasar suatu bentuk norma perilaku manusia yang universal, karena merupakan bentuk konkrit dari cinta kasih yang positif terhadap yang dipimpin, dan diharapkan pemimpin organisasi pemuda lebih memiliki rasa peduli terhadap tanggung jawab kepada para anggota organisasi dan masyarakat, dalam memperjuangkan secara nyata kesejahteraan masyarakat, terutama memperjuangkan potensi lapangan pekerjaan bagi para pemuda.

Keempat, tertanamnya prinsip akuntabilitas/tanggung gugat yang harus dipegang oleh seorang pemimpin, yang dapat dituntut oleh yang dipimpin. Dengan akuntabiltas, diharapkan seorang pemimpin menjadi lebih berharga dan dihargai oleh yang dipimpin, karena pada dasarnya akuntabiltas adalah betuk usaha untuk memenuhi janji-janji dari komitmen yang telah dibuat dan disepakati. Selain itu, mempertanggungjawabkan apa yang telah dibuat dan dilakukan dalam kaitannya dengan bagaimana seorang pemimpin menggunakan kewenangan yang telah diamanatkan kepadanya. Akuntabilitas juga menyangkut bentuk menghargai orang lain, karena dengan modal prinsip akuntabilitas diharapkan seorang pemimpin berani mendelegasikan wewenang kepada orang yang dipimpin, tetapi tetap bertanggung jawab. Kepemimpinan yang akuntabel tetap berfokus pada akhir tujuan organisasi dan hasil program-program yang dilaksanakan secara nyata bukan ke dalam bentuk seremoni belaka.

Kelima, kepemimpinan pemuda yang ideal adalah kepemimpinan yang menempatkan hidupnya sebagai pelayan dan bukan hanya pada karir semata. Pada kenyataannya, saat ini yang terjadi adalah pemimpin melakukan disfungsi. Semestinya, sebagai seorang pemimpin, bertugas melayani, bukan dilayani. Mental model seperti ini mestinya sudah harus dikembalikan pada jalurnya yang ideal, karena kebahagiaan yang hakiki bagi seorang pemimpin yang telah menyanggupi dirinya untuk diberikan kepercayaan adalah kedekatan nyata dalam kebahagiaan yang bernilaikan keikhlasan, untuk konsisten sebagai pelayan yang melayani kebutuhan bagi para anggota yang dipimpinnya.

Keenam, kepemimpinan bagi pemuda adalah kepemimpinan yang menyangkut kemauan dan kemampuan untuk berubah. Ini merupakan suatu bentuk sikap yang berani dan dinamis serta fleksibel. Semangat seperti ini sangat diperlukan, karena kondisi yang tidak akan berubah adalah perubahan itu sendiri, sehingga yang dituntut bagi seorang pemimpin ialah punya visi, keberanian dalam sikap, dan sekaligus rendah hati serta juga tetap mau terus belajar dan tumbuh berkembang sejalan dengan tuntutan akan perubahan yang terus terjadi. Karena, tumbuh kembang itu sendiri pada hakekatnya adalah bagaimana seorang pemimpin terus belajar untuk selalu mampu memimpin dirinya sebelum memimpin orang lain, sehingga berimplikasi positif bagi pemimpin itu sendiri.

Ketujuh, prinsip kepemimpinan dalam kepemudaan yang sukses ialah kepemimpinan pemuda yang memiliki rasa percaya diri, elegan, transparan, inovatif, dan tidak memaksakan diri serta siap menerima kritik saran yang membangun. Barangkali yang menjadi permasalahan utama bagi pemimpin yang selalu terjadi berkepanjangan adalah ketika seorang pemimpin sulit mencerna dan takut apabila dikritisi atas kebijakan yang telah dibuatnya, serta selalu cemas dan merasa terancam, sehingga untuk meng-counter-nya seorang pemimpin tak jarang menyelesaikan masalah dengan melahirkan masalah baru karena jalan pintas dengan pendekatan kekerasan dan intimidasi yang dibuatnya pada para anggota maupun masyarakat umum lainnya. Maka, tak jarang pemimpin yang bermental model ini selalu diincar untuk dimosi tidak percaya oleh para anggotanya.

Harapan

Nilai dasar dari kepemimpinan adalah manusia sebagai titik sentral dari semua keputusan yang akan dibuat dan dijalankan bagi organisasi. Kepemimpinan orang muda Kepulauan Riau dengan keparipurnaan ke-Melayuan-nya merupakan bentuk entitas maupun identitas dari masyarakat dengan karakteristik nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, baik itu nilai filosofis budaya, serta kemampuan menciptakan karakter ketokohan dalam bentuk kepemimpinannya yang didasari oleh nilai-nilai kepemimpinan (leadership value’s) Melayu yang identik dengan nilai-nilai spritual keislaman, dan diharapkan mengikat simbol bahwa orang muda Kepulauan Riau mampu secara bijak dan berani melangsungkan nilai-nilai kepatutan dan berbudi pekerti yang luhur dalam adat resam sebagai junjungan bentuk pola kepemimpinan orang Melayu yang tangguh. Atas dasar Melayu sebagai budaya yang identik dengan Islam, secara sadar orang muda Kepulauan Riau merupakan potensi yang sangat besar untuk melakukan respons positif terhadap manajemen perubahan dalam iklim menyatukan dan membangun potensi daerah yang ada di Bumi Lancang Kuning secara tepat guna bagi kemaslahatan masyarakat, dalam mewujudkan perjuangan komponenen masyarakat pemuda untuk konsisten memperjuangkan Ranah Melayu yang “baldatun toyyibbatun warabbun ghofuur”, yang akan segera dapat terwujud secara paripurna.


Mei 2016

ALFIANDRI


Share on Google Plus

About alfiandri

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Read »
    Blogger Comment

0 comments:

Post a Comment